Kalkulator Average Down & Average Up Saham

Kalkulator Average Down Saham

Hitung harga rata-rata saham setelah beli di beberapa titik harga — average down maupun average up. Simulasi berapa lot tambahan yang dibutuhkan untuk turunkan avg ke target. Berlaku untuk semua saham BEI.

Gratis & tanpa daftar akun
Diperbarui Maret 2025
Cocok untuk semua saham BEI
Kalkulator Average Down & Average Up Saham
Masukkan semua titik pembelian → harga rata-rata dihitung otomatis
Daftar Pembelian
2 pembelian
Hasil Perhitungan
Harga rata-rata (avg) Rp 0
Total lot dimiliki 0 lot
Total modal yang ditanam Rp 0
Harga beli pertama
Perubahan avg vs harga pertama
Harga terakhir vs avg
Distribusi Modal per Pembelian
💡 Masukkan minimal 2 pembelian untuk melihat hasil perhitungan average saham.

Cara Menghitung Average Down Saham yang Benar

Kalkulator average down saham adalah alat bantu yang digunakan investor untuk menghitung harga rata-rata kepemilikan (HPP per lembar) setelah membeli saham yang sama di lebih dari satu titik harga. Ini adalah salah satu perhitungan paling dasar — namun paling sering dilakukan keliru.

📌
Apa itu average down saham?
Average down (avg down) adalah strategi menambah posisi saham di harga yang lebih rendah dari harga beli sebelumnya, sehingga HPP rata-rata turun. Sebaliknya, average up adalah menambah posisi di harga lebih tinggi — untuk mengikuti momentum kenaikan.

Rumus Average Down Saham

Rumus dasarnya sederhana:

RUMUS HARGA RATA-RATA SAHAM Harga Rata-rata = Total Modal ÷ (Total Lot × 100)

Contoh perhitungan average down saham: Kamu membeli 10 lot saham BBRI di Rp 4.500 (modal Rp 4.500.000), kemudian harga turun dan kamu membeli 10 lot lagi di Rp 4.000 (modal Rp 4.000.000).

Total modal = Rp 4.500.000 + Rp 4.000.000 = Rp 8.500.000
Total lot = 20 lot = 2.000 lembar
Harga rata-rata = Rp 8.500.000 ÷ 2.000 = Rp 4.250 per lembar

Dengan average down, HPP kamu turun dari Rp 4.500 ke Rp 4.250 — kamu sekarang butuh harga jual minimal Rp 4.250 (plus biaya transaksi) untuk tidak rugi.

Cara Menggunakan Kalkulator Average Down Saham Ini

1
Masukkan harga dan lot pembelian pertama
Isikan harga saham (Rp per lembar) dan jumlah lot pada baris "Pembelian 1". Tidak perlu mengalikan dengan 100 — kalkulator sudah menghitung per lembar secara otomatis.
2
Tambahkan setiap pembelian berikutnya
Klik "+ Tambah Pembelian" untuk menambah baris baru. Masukkan harga dan lot untuk setiap transaksi pembelian saham yang sama. Bisa hingga 10 titik pembelian.
3
Baca harga rata-rata di bagian hasil
Kalkulator menampilkan harga rata-rata (avg), total lot, total modal, dan distribusi modal per pembelian secara visual. Semua dihitung secara real-time.
4
Simulasi lot tambahan (tab "Simulasi Lot Tambahan")
Masukkan target avg dan harga beli tambahan. Kalkulator akan menghitung berapa lot yang harus dibeli agar rata-rata turun ke target yang diinginkan.

Kapan Sebaiknya Melakukan Average Down Saham?

Average down bukan strategi yang selalu tepat. Sebelum menambah posisi, pastikan kamu sudah menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut:

Kondisi yang mendukung average down:
  • Fundamental perusahaan masih kuat — laba tumbuh, utang terkendali, bisnis sehat
  • Penurunan harga disebabkan sentimen pasar atau ikut koreksi IHSG, bukan masalah internal
  • Harga sudah mendekati area support kuat yang sudah diuji berkali-kali
  • Kamu memiliki modal tambahan tanpa mengorbankan kebutuhan darurat
  • Posisi saham ini tidak akan melebihi 20–25% dari total portofolio setelah averaging
🚫
Jangan average down dalam kondisi ini:
  • Fundamental memburuk — laporan keuangan merosot, manajemen bermasalah, atau ada skandal
  • Saham sedang dalam downtrend struktural panjang tanpa tanda pembalikan
  • Kamu belum paham bisnis perusahaan dan hanya berharap harga kembali naik
  • Menambah posisi akan membuat satu saham mendominasi portofolio (>30%)
  • Modal tambahan berasal dari pinjaman atau dana darurat

Perbedaan Average Down dan Average Up Saham

Kalkulator di atas bisa digunakan untuk keduanya — baik kalkulator average down saham maupun kalkulator average up saham. Perbedaannya hanya pada arah pergerakan harga:

AspekAverage DownAverage Up
Harga pembelian tambahanLebih rendah dari avg sebelumnyaLebih tinggi dari avg sebelumnya
Efek terhadap avgAvg turun ↓Avg naik ↑
TujuanTurunkan BEP saat harga terkoreksiTambah posisi saat tren positif
Cocok untukValue investor, swing trader koreksiTrend follower, momentum trader
Risiko utamaSaham terus turun (catching falling knife)Harga berbalik setelah avg naik
Strategi populerDCA (Dollar Cost Averaging)Pyramiding

Rumus Menghitung Lot Tambahan untuk Turunkan Average

Jika kamu ingin tahu berapa lot yang harus dibeli agar rata-rata turun ke target tertentu, gunakan rumus ini:

RUMUS LOT TAMBAHAN AVERAGE DOWN Lot Tambahan = ⌈(Total Modal Sekarang / 100 − Target Avg × Total Lot) ÷ (Target Avg − Harga Beli Tambahan)⌉

Contoh: Kamu punya 10 lot di Rp 4.500 (modal Rp 4.500.000). Ingin avg turun ke Rp 4.000 dengan beli tambahan di Rp 3.700.

Lot tambahan = (4.500.000/100 − 4.000 × 10) ÷ (4.000 − 3.700)
= (45.000 − 40.000) ÷ 300 = 5.000 ÷ 300 = 16,67 → dibulatkan ke atas = 17 lot

Dengan membeli 17 lot di Rp 3.700, rata-rata kamu akan menjadi sekitar Rp 3.996 — mendekati target Rp 4.000. Tab "Simulasi Lot Tambahan" di kalkulator menghitung ini secara otomatis.

Average Down Saham Populer BEI — BBCA, BBRI, GOTO

Kalkulator average down saham ini berlaku untuk semua saham yang tercatat di BEI. Tidak ada input khusus untuk ticker — cukup masukkan harga dan lot dari saham yang sedang kamu averaging, apakah itu BBCA, BBRI, BMRI, GOTO, ASII, atau saham lainnya.

Contoh: Kalkulator Average Down Saham BBCA

Misalkan kamu membeli BBCA dalam 3 tahap:

PembelianHargaLotModalAvg setelah
PertamaRp 10.0005 lotRp 5.000.000Rp 10.000
Avg down 1Rp 9.0005 lotRp 4.500.000Rp 9.500
Avg down 2Rp 8.50010 lotRp 8.500.000Rp 9.000
Total20 lotRp 18.000.000Rp 9.000

Dari harga awal Rp 10.000, tiga kali pembelian berhasil menurunkan rata-rata ke Rp 9.000 — turun 10% dari harga pertama, cukup untuk meminimalkan kerugian jika harga recovery ke level tersebut.

Tips Menjalankan Strategi Average Down yang Baik

⚠️
"Average down tanpa analisis fundamental sama saja berjudi." Selalu pastikan kamu punya alasan berbasis data sebelum menambah posisi di harga turun — bukan sekadar harapan bahwa harga "pasti akan balik".
  • Tetapkan rencana average down sebelum membeli saham pertama — tentukan di level harga berapa kamu akan avg down dan berapa maksimal lot yang akan ditambah
  • Maksimal 2–3 kali averaging dalam satu saham untuk menghindari over-konsentrasi
  • Gunakan sistem batch — misalnya avg down di setiap penurunan 5%, bukan berdasarkan emosi sesaat
  • Hitung dampak ke portofolio total — satu saham idealnya tidak lebih dari 15–20% portofolio setelah semua averaging
  • Tetapkan cut loss terakhir — jika rata-rata sudah tidak bisa diturunkan lagi dengan modal yang ada, jangan buang good money after bad

Pertanyaan yang Sering Diajukan tentang Kalkulator Average Down Saham

Average down saham adalah strategi membeli saham tambahan di harga yang lebih rendah dari harga beli rata-rata sebelumnya, dengan tujuan menurunkan HPP (Harga Pokok Penjualan) per lembar saham. Cara kerjanya: setiap pembelian baru digabungkan dengan pembelian sebelumnya, lalu dihitung rata-rata tertimbang berdasarkan modal. Semakin banyak lot yang dibeli di harga rendah, semakin turun rata-ratanya.
Gunakan tab "Simulasi Lot Tambahan" di kalkulator ini. Masukkan target avg dan harga beli tambahan — kalkulator akan menghitung otomatis. Rumus manualnya: Lot Tambahan = (Modal Sekarang/100 − Target Avg × Total Lot) ÷ (Target Avg − Harga Beli Tambahan). Ingat: semakin jauh target avg dari harga beli tambahan, semakin sedikit lot yang dibutuhkan.
Kalkulator ini berlaku untuk semua saham yang tercatat di BEI — termasuk papan Reguler, Akselerasi, dan saham di papan pengembangan. Tidak ada database saham yang perlu dipilih. Cukup masukkan harga (Rp per lembar) dan jumlah lot sesuai data transaksi dari rekening efek atau KSEI.
Average down dilakukan secara reaktif — menambah lot saat harga turun. DCA (Dollar Cost Averaging) lebih terstruktur — membeli jumlah nominal yang sama secara berkala (misalnya setiap bulan) tanpa mempertimbangkan kondisi harga saat itu. DCA menghasilkan rata-rata yang lebih konsisten karena tidak hanya beli saat harga turun saja, tapi juga saat harga naik.
Secara regulasi, tidak ada batasan. Namun dari perspektif manajemen risiko, sebagian besar investor profesional menyarankan maksimal 2–3 kali averaging dalam satu saham. Lebih dari itu, satu saham bisa mendominasi portofolio dan meningkatkan risiko secara tidak proporsional. Tetapkan batas maksimal lot per saham sebelum memulai posisi, bukan setelah kerugian terjadi.
Rumus Excel untuk average down: =SUMPRODUCT(harga,lot)/SUM(lot) — di mana "harga" dan "lot" adalah range sel masing-masing. Kelemahannya, kamu harus update manual setiap ada perubahan. Kalkulator online ini menghitung secara real-time, mendukung hingga 10 pembelian, menampilkan visualisasi distribusi modal, dan menyediakan simulasi lot tambahan yang tidak mudah dilakukan di Excel secara langsung.
Diperbarui: Maret 2025
Berlaku untuk semua saham BEI — Papan Reguler & Akselerasi
Hitung juga: Kalkulator Fee Saham · Kalkulator Profit Saham · Kalkulator ARA ARB